Senin, 24 Februari 2014

PUISI - LINANGAN AIR MATA

LINANGAN AIR MATA
by Nanda Abdul Karim

Linangan air mata dalam sunyi
Menutup mulut untuk tak bicara
Tiada ruang yang tercipta
Tipu daya rasa memecahkan

Kembali dalam sebuah harapan
Langit rindu kian menghampa
Kertas usang telah terhapuskan
Masa kelam telah terlewatkan

Mencaci mimpi yang tak terdengar
Kesengsaraan di balik sendu
Terbentang luas erangan suara
Berbisik di sepanjang langkah

Menghirup warna-warna luka
Membuka celah-celah rasa
Menyerukan keriangan dalam pagi
Irama ketukannya bertukar senja

Biarkan aku mengalir
Kau takkan mungkin terkenang abadi
Tulang rusukku terpatahkan karenamu
Tergores halus dalam linangan hangatku

PUISI - KU LUPAKAN MALAMKU

KU LUPAKAN MALAMKU
By Nanda Abdul Karim


Batang-batang waktu luluh
Di tikam masa yang kian meradang
Sejenak lembayung senja terlintas
Jauhnya ruang menghalangi

Titik nadi berdenyut kencang
Malam-malamku terlupakan
Sebuah isyarat ku sampaikan
Gemerlap semakin meredup
Tertunduk dalam putihnya bumi

Adanya jiwaku sebegitu bimbang
Aku terdiam
Selembar untaian tiada tertuliskan
Tiada lekang namun terkekang

Ku habiskan malamku
Lalu ku lupakan tentangnya
Hasratku kian menipis
Seribu curahan mendekam malam

Mencuri detik dalam ketenangan
Tak teringat dimana masanya
Terhilangkan begitu saja dalam nalarnya
Berjalan untuk melupakan malamku

PUISI - AWAL PERJALANAN



AWAL PERJALANAN
By Nanda Abdul Karim

Aku menunggumu dalam luka
Berharap kembali untuk memeluk bintang
Menghindari suara-suara jiwa
Desah-desah nafas menghembuskan maknanya

Ku pendam sebutir kepahitan
Lara ini tiada berhenti
Yang telah tertata terhancurkan lagi
Melarutkan malam yang kian sunyi

Aku tinggal di ujung-ujung rasa
Mengaharap keribaan Sang Pencipta
Resah menumpuk dalam dada
Ku jadikan diriku sebuah kesungguhan

Perjalanan kian ke depan
Ku lepaskan busur panah melewati waktu
Degup jantung menghentak darah
Desir suara terkadang menghilang

Awal perjalanan sungguh sengsara
Dinding-dindingnya hancur dalam bisu
Pertemuan langkah dalam gemericik
Menghantarkan hingga ke ujung muara

Minggu, 09 Februari 2014

PUISI - RASAKAN KITA



RASAKAN KITA
By Nanda Abdul Karim

Darahku mengalir dalam sanubari hati
Dan bangun dari bayang-bayang
Menghujam batas dari segala langkah
Melepas pagi yang di tinggal mimpi

Aku menahan hasrat di antara lainnya
Mungkin aku tak tertinggal lagi
Ku ungkap di dalam secarik maya
Menghamburkannya seperti semula

Aku melepas seluruh kata
Menikmati indahnya surgawi dunia
Langitku membisu
Adakah yang merasakan hadirku?

Kita bicara dalam gelora asmara
Api cinta kian membara
Membakar jiwa yang keras
Memanaskan malam dalam lautan

Dekap aku dengan kehangatan
Menumbuhkan rasa yang tak tertahan
Resapi kita dalam tawa
Rasakan kita dalam cinta