Jumat, 01 November 2013

CERPEN : Terbangun Dari Tidur Panjangku


Ayana, Cindy dan Nabilah adalah 3 orang sahabat yang tak pernah terpisahkan. Mereka bertiga adalah teman sekelas yang selalu membuat suasana lokal menjadi heboh. Diantara mereka bertiga, Cindy lah yang paling kalem. Ayana kadang-kadang jail dan suka usil. Nabilah jangan ditanya lagi, dialah paling usil dan ribut diantar 2 temannya tadi.
Ayana menyukai seorang cowok dan dia membahasnya didepan kedua temannya.
“ Eh… Cin, Bil, kalian tau gak cowok yang dikelas X4 itu?”.
“Siapa Ay?”, tanya Cindy.
“Ituloh, cowok yang pake kacamata, yang ganteng, keren dan cool ituloh”.
“Siapa? Nanda?”, jawab Nabilah
“Iya, keren kan dia”, tanya Ayana kembali.
“Cie..cie, kamu sukai ya Ay?’, tanya Nabilah sembari meledek.
“Gak kok, aku cuma kagum aja sama dia, orangnya baik, pinter, ganteng, dan senyumnya ituloh, gak nahan…”, jawab Ayana sambil senyam-senyum sendiri.
“Yaudah, kalo kamu suka, tinggal bilang aja sama kita, mungkin kita bisa bantu kamu”, kata Cindy pada Ayana.
“Betul tu Ay, kan ada kita berdua”, sahut Nabilah.
“Kalian Yakin mau bantuin aku?”, tanya Ayana kepada kedua temannya itu.
“Iya, kami pasti akan bantuin kamu, kita kan sahabat, apa sih yang enggak buat sahabat, ya gak Bil?”, tanya Cindy pada Nabilah.
“Iya Ay, kami pasti bantuin kamu kok”, jawab Nabilah.
“ Makasih ya temen-temen, udah mau ngebantuin aku”, Ayana tersenyum dan matanya tampak berkaca-kaca.
“Iya, sama-sama Ayana”, jawab Cindy dan Nabilah serempak.
            Bel masuk pun berbunyi, mereka bertiga kemudian masuk ke kelas. Di dalam kelas, Ayana melamun  dan senyum-senyum sendiri membayangkan cowok yang ia sukai tersebut. Sampai-sampai, gurunya, Bu Ida  pun menegurnya,
“Ayana! Ibu perhatikan daritadi kamu itu melamun dan senyum-senyum sendiri, memangnya ada apa?”, tanya guru Bahasa Indonesianya.
“Ehem ehem”, Nabilah berdehem dan senyum-senyum sambil melirik Ayana.
“Eh, nggg… enggak ada apa-apa kok bu”, jawab Ayana yang ketakutan.
“Biasa tu bu, namanya orang lagi jatuh cinta, ya emang seperti itu, kepikiran terus”, ledek Nabilah yang tertawa melihat Ayana.
“Apa benar itu Ayana?”, tanya gurunya kembali yang suaranya semakin seram dan membuat Ayana ketakutan.
“Gak ada kok bu, si Nabilahnya aja yang suka jail, orang gak ada apa-apa kok”, jawab Ayana kepada gurunya sambil melihat Nabilah dengan ekspresi wajah yang marah.
“Yaudah, yaudah, kalian ini, selalu saja ribut, gak di jam ibulah, guru lainlah”, kata bu guru yang coba menenangkan dengan suara yang keras.
“Ayo anak-anak kita lanjutkan kembali pelajarannya”.
            Bu Guru pun kembali melanjutkan pelajarannya. Di dalam hatinya, Ayana menggerutu,
“Awas lu ya Bil, keluar main gue bejek-bejek muke lu”, dengan ekspresi marah Ayana melihat ke arah Nabilah, namun Nabilah hanya senyum.
            Bel istirahat berbunyi, jam pelajaran Bahasa Indonesianya Bu Ida pun berakhir. Ayana langsung pergi ke meja Nabilah dengan ekspresi yang marah, walaupun sebenarnya ia tidak bisa marah.
“Bil, lu jangan bilang-bilang sama orang-orang dong, apalagi sama Bu Ida, ntar kalo ketauan gue bejek-bejek muke lu”, ayana bercanda dengan nada yang mengancam.
“Gue kan Cuma becanda, dasar tembem” jawab Nabilah sambil mencubit pipinya Ayana yang memang tembem dan besar.
“Yuk ke kantin” ajak Cindy yang daritadi sudah menahan lapar.
“Nyok” jawab Nabilah sambil menarik tangannya Ayana.
            Di kantin, mereka pun makan sambil bercerita tentang apa yang terjadi di lokal tadi.
“Eh Cin, lu liat gak tadi ekspresi mukanya Ayana ayg marah, padahal dia gak bisa marah tapi sok-sokan marah, pipinya aja udah gede tambah di gede-gedein” ledek Nabilah sambil memakan siomay kesukaannya.
“Lu sih Bil, bilang-bilang ke bu Ida segala tadi kalo gue lagi kasmaran”, jawab Ayana.
“Kan emang kenyatannya begitu”, jawab Nabilah kembali.
“Udah-udah, kalian berdua, masalah kecil aja diributin, malu dong, kalian berdua tuh udah SMA”, Cindy mencoba menengahi dan menenangkan suasana.
“Tapi dia duluan tuh Cin, bikin kesal aja”, jawab Ayana yang kesal sambil memonyongkan bibirnya.
“Udahlah Ay,  Nabilah kan cuma bercanda, jangan dianggap serius, udah makan aja dulu makanan kalian, nanti baru bicarain lagi, gak boleh lo lagi makn ribut dan berbicara”, kata Cindy mencoba untuk menenangkan Ayana.
“Iya deh Cin, hue nurut aja apa kata lu” jawab Ayana,
            Selesai makan, merka bertiga pergi ke kelas dan duduk di kursi yang biasanya untuk istirahat siswa. Mereka kembali membahas tentang perasaan Ayana kepada Nanda, anak kelas X4 yang disukai Ayana.
“Eh Ay, gimana nih?”, tanya Nabilah.
“Apanya yang gimana”, tanya Ayana kembali.
“Ituloh, tentang perasaan kamu ke Nanda”, tanya Nabilah kepada Ayana.
“Gue gak tau Bil, gua masih malu, ngeliatnya dari dekat aja gue masih malu, apalgi kalo dia ngeliat gue, mungkin lebih malu, soalnya gue ini kan orangnya pemalu”, jawab Ayana .
“Ya, gue tau itu, tapi masalahnya kamu itu harus usaha Ay atau gak minta tolong sama gue dan Cindy kan bisa, ya kan Cin?” tanya nabilah ke Cindy.
“Iya Bil, kamu kan bisa minta tolong ke kita”, jawab Cindy yang mengiyakan pertanyaan Nabilah tadi.
            Saat mereka bertiga sedang menceritakan Nanda, orang yang punya nama tiba-tiba datang dan menghampiri Ayana.
“Eh, kamu yang namanya Ayana kan?”, tanaya Nanda kepada Ayana
“I..ii..ya”, jawab Ayana dengan gugup dan terbata-bata, pipinya yang tembem tiba-tiba memerah ketika melihat Nanda ada di depannya.
“Oh ya, kenalin aku Nanda, anak X4 yang kelasnya di pojokkan dekat musholla, kamu tau kan?”, tanya Nanda sambil menjulurkan tangannya kepada Ayana .
“I…iya aku tau kok, kamu yang jago main gitar di SMA ini kan?”, Ayana memegang tangan Nanda serta bertanya tapi iya masih terbata-bata menanyakannya.
“AH.. enggak kok, masih banyak lebih hebat main gitar daripada aku, aku hanya main-main gitu aja kok, gak lebih”, jawab Nanda yang orangnya suka merendah.
            Saat Nanda sedang bertanya jawab dan bercerita dengan Ayana, tiba-tiba bel yang menandakan istirahat selesai pun berbunyi. Teettt teettt teettt…
“Eh udah bel tuh, aku masuk kelas duluan ya, sampai nanti ya Ayana”, Nanda berlari menuju kelasnya sambil tersenyum ke arah Ayana.
“Iya Nan…da”, jawab Ayana yang belum sempat berkata karena Nanda udah buru-buru lari.
“Cie cie, Ayana nih ye”, Nabilah meledek Ayana.
“Cie Ayana”, Cindy pun ikutan meledek Ayana.
“Ih.. kalian berdua apaan sih, yuk masuk kelas”, Ayana tersenyum dan malu-malu lalu berjalan masuk ke kelasnya>
            Bu Lasma pun masuk, dan menyuruh anak-anak X7 mengeluarkan buku cetak Matematika. Bu Lasma pun menjelaskan pelajaran Matematika Logaritma.
            90 menit pun berlalu, bel tanda pulang pun berbunyi, sebelum itu Bu Lasma memberikan anak X7 pr.
“Anak-anak, prnya halaman 182 ya, jangan sampe gak dikerjakan, kalau ada yang tidak mengerjakan, akan ibu hukum, hari jum’at dikumpul!”, perintah Bu Lasma dengan nada dan kata-kata yang mengancam.
“Ya Bu….”, jawab anak X7 serempak.
            Bu Lasma lalu keluar dari X7.
            Saat Ayana, Nabilah dan Cindy keluar kelas, tiba-tiba saja Ayana kaget melihat Nanda yang berdiri di depan kelasnya. Ayana lalu bertanya kepada Nanda.
“Ng..ngapain kamu disini Nan?”.
“Gak ada, aku Cuma nungguin kamu aja”, jawab Nanda sambil tersenyum kepada Ayana.
“Oo…”, kata Ayana singkat.
“Oh ya, kamu pulang sama siapa?”, tanya Nanda.
“Aku dijemput sama Mama, emangnya kenapa?”, jawab Ayana.
“Gak ada apa-apa sih, tadinya aku mau nganterin kamu pulang, eh ternyata kamunya dijemput, ya udah aku pulang duluan ya Ayana, hati-hati di jalan ya” Nanda berjalan sambil tersenyum kepada Ayana lalu pergi ke  tempat ia memarkir motornya.
“Iya Nanda, kamu juga hati-hati ya”, Ayana juga mengingatkan Nanda.
            Setelah 5 menit Nanda pulang, tiba-tiba Mamanya Ayana pun datang dan memanggil Ayana.
“Ayana, ayo pulang”.
“Iya ma, bentar. Eh  Cin, Bil, gue pulang dulu yah, sampe bertemu besok”, Ayana menjawab panggilan mamanya lalu pamit dengan Cindy dan Nabilah yang juga sedang menunggu jemputan.
“Iya, hati di jalan ya Ay”, jawab Cindy.
“Hati-hati di jalan ya Ay”, jawab Nabilah juga.
“Iya, kalian juga ya”.
Ayana lalu berjalan ke arah mobilnya lalu naik.
“Da..da..”, Ayana tersenyum dan melambaikan tangganya dari jendela mobilnya.
            15 menit kemudian sampailah Ayana dan mamanya di rumah. Lalu Ayana langsung menuju ke kamarnya untuk mengganti bajunya terus dilanjutkan dengan kebiasaanya, yaitu tidur.
            Keesokan paginya, Ayana sudah bersiap untuk pergi sekolah dan bertemu kembali dengan pujaan hatinya, Nanda. Ia lalu berangkat sekolah diantar oleh Mamanya.
            15 menit kemudian sampailah Ayana di sekolah. Cindy dan Nabilah pun sudah menunggunya di gerbang sekolah.
“Selamat pagi Cin, Bil”, Ayana berkata sambil tersenyum.
“Selamat juga Ayana:, jawab Cindy dan Nabilah serempak.
“Yuk, ke kelas”, ajak Ayana.
“Ayuk”, jawab Nabilah
            Tiba-tiba Nanda datang dan menghampiri Ayana.
“Selamat pagi Ayana”, Nanda berkata sambil tersenyum.
“Selamat pagi juga Nanda”, jawab Ayana sambil tersenyum juga.
“Ohya, aku ada sesuatu nih buat kamu, bunga mawar”, Nanda lalu menunjukkan bunga mawarnya lau diberikannya kepada Ayana.
“Makasih ya Nanda, aku terima bunga mawarnya, da.. aku kelas dulu ya”, Aana lalu menerima bunga dari Nanda, setelah itu ia pergi da melemparkan senyum kepada Nanda.
“Iya Ayana, sampai nanti ya”, Nanda Juga membalas senyumannya Ayana.
            Sesampainya Ayana, Cindy, dan Nabilah di kelas, Nabilah lalu meledek Ayana, dan membuat pipinya Ayana memerah.
“Cie…cie dapat bunga nih dari cowok pujaan hatinya”, Nabilah meledek sambil tertawa.
“Kayaknya bentar lagi kita bakal di traktir makan nih”, Cindy juga ikutan meledek.
“Ih… kalian berdua apaan sih”, Ayana hanya tersipu malu.
            Singkat cerita, pas pulang sekolah, tiba-tiba Nanda datang dan menghampiri Ayana.
“Hai Ayana, mau pulang bareng aku gak?”, tanya Nanda.
“Hmmm… tunggu ya, aku sms mama aku dulu”, Ayana mengambil Hapenya lalu meng-sms mamanya.
            Beberapa detik kemudian mamanya Ayana membalas smsnya.
“Iya, kamu hati-hati dijalan ya, kebetulan mama bentar lagi mau rapat nih sama Ikatan dokter gigi dari Jakarta”.
            Lalu Ayana mengiyakan ajakkan Nanda.
“Yuk Nan kita pulang, kebetulan mamaku mau rapat”, kata Ayana kepada Nanda sembari tersenyum.
“Yes, akhirnya aku bisa pulang sama kamu”, Nanda lalu melompat karena girangnya, Ayana pun hanya tersenyum melihat Nanda.
            Sebelum pergi, Ayana pamit dengan Cindy dan Nabilah.
“Cin, Bil, gue duluan ya”.
“Iya Ay, semoga sukses ya, jangan lupa traktir kita ya nanti kalo udah jadi”, kata Nabilah sembari meledek Ayana.
“Iya Ay, kita tunggu ya”, Cindy juga menambahkan.
“Ih.. kalian berdua apaan sih”, Ayana hanya tersenyum saja.
            Nanda pun juga pamit dengan Cindy dan Nabilah.
“Cin, Bil, kita berdua pulang duluan ya”.
“Iya, hati-hati ya”, jawab Nabilah dan Cindy serentak.
            Sesampainya di rumah Ayana, Ayana lalu turun dari motor, tiba-tiba Nanda memegang tangannya.
“Eh tunggu bentar Ay, ohya nomor hape kamu berapa?’, Nanda menanyakan nomor hapenya Ayana.
“Hmmm… 08xxxxxxxxxx”, Ayana lalu menyebutkan nomor hapenya.
“Okeh, makasih ya Ay, aku pulang dulu ya, nanti malam aku sms kamu”, Nanda lalu pamit kepada Ayana untuk  pulang.
“iya, kamu hati-hati ya, aku tunggu smsnya ya”, jawab Ayana sambil tersenyum
“Iya Ay, da…”, Nanda lalu pergi.
            Pas malam harinya, Nanda dan Ayana pun smsan sampai tengah malam. Setiap hari mereka smsan. Tidak terasa udah seminggu mereka smsan dan mereka merasa bahwa mereka cocok dan suka satu sama lainnya.
            Keesokan harinya pas pulang sekolah, tiba-tiba Nanda menarik tangan Ayana, dan mengajaknya bicara di taman sekolah.
“Ay, aku mau bilang sesuatu sama kamu”, kata Nanda kepada Ayana
“Mau bilang apa Nan? Bilang aja,  aku dengerin kok”, jawab Ayana
“Ini tentang hatiku Ay, aku ingin kamu tau....
            Tiba-tiba saja Nanda terbangun dan ia terkejut dan bertanya dengan dokter yang ada di depannya.
“Loh, saya ada dimana?”, tanya Nanda yang kelihatan bingung dengan yang telah terjadi padanya.
“Kamu ada di rumah sakit sekarang”, kata Dokter.
“Hah? Di rumah sakit? Bukannya saya lagi  di taman sekolah sedang menyatakan perasaan saya ke Ayana” jawab Nanda yang masih belum percaya.
“Ayana? Siapa Ayana?”, Dokter bertanya kepada Nanda.
“Ituloh Dok, member JKT48”, Jawab Nanda
            Nanda kemudian menjelaskan dan tiba-tiba ia mengambil sebuah majalah yang ada di atas meja, dan menunjukkannya kepada Dokter.
“Nah… ini Dok, ini dia yang namanya Ayana”, Nanda menjelaskannya.
“Ohh.. ini, perempuan ini, memangnya saat kamu sedang menyatakan perasaan kamu ke dia, kamu ingat kamu berada dimana dan tahun berapa?”, Dokter menanyakannya lagi.
“Saya ingat, waktu itu saya ada di taman sekolah sama Ayana, waktu itu tangal 31 Mei 2013 dan saya masih kelas X di SMAN 4 Pekanbaru dan umur saya masih 16 tahun, ini masih tahun 2013 kan Dok?”,  Nanda kembali mejelaskan secara rinci apa yang telah terjadi dan bertanya lagi kembali kepada Dokter.
“ Oh… ketika itu tahun 2013 dan umur kamu masih 16 tahun, tapi sayangnya  itu sudah 9 tahun yang lalu dan sekarang sudah tahun 2022”, Dokter kemudian menjelaskannya ke Nanda.
“Apa? Tahun 2022? Tidak mungkin Dok, tidak mungkin!”, Nanda kemudian menjerit histeris setelah mendengar perkataan Dokter.
“Tenang dulu, kamu tenang dulu ya, nih minum dulu agar kamu tenang”, Dokter menenangkan Nanda dan memberikannya segelas ai putih.
“Memangnya saya kenapa Dok? Dan mengapa saya bisa berada di rumah sakit ini”, setelah tenang, Nanda lalu bertanya kepada Dokter.
“Saat itu kamu berboncengan dengan teman kamu dan teman kamu sedang mengendarai motor dan tiba-tiba ada mobil yang menabrak kamu dan teman kamu dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi, teman kamu berhasil selamat dan hanya mengalami luka kecil, tetapi kamu terpental sejauh 100 meter, dan saat itu kamu tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan yang banyak di kepala dan ketika itu juga kamu dilarikan kerumah sakit oleh masyarakat sekitar, dan kamu langsung dibawa ke UGD dalam keadaan koma sampai sekarang”, Dokter menjelaskannya kepada Nanda.
“Jadi yang selama ini terjadi dengan saya dan Ayana itu apa Dok?”, Nanda kembali bertanya.
“Selama ini kamu dikuasai oleh alam bawah sadar kamu, kamu koma dan mengalami banyak hal terjadi sama kamu, tapi itu bukanlah kenyataan, itu hanyalah alam bawah sadar kamu, mungkin karna kamu saking terobsesinya dengan Ayana kamu merasa bahwa itu adalah nyata, tapi itu hanyalah sebuah mimpi atau halusinasi yang dikendalikan oleh alam bawah sadar kamu, mungkin di alam bawah sadar kamu itu kamu mersakan senang ataupun sedih, tapi dalam kenyatannya tubuh kamu hanya diam dan tidak bergerak sama sekali atau koma”, Dokter menjelaskan kepada Nanda apa yang telah terjadi padanya dan menjelaskan bahwa selama ini Nanda koma dan dikuasai oleh alam bawah sadarnya.
“Jadi sekarang tahun 2022 dan sekarang umur saya 25 tahun?”, Nanda berkata dengan nada yang masih tidak percaya.
Ya, betul sekali, dan kamu telah koma selama 9 tahun lamanya”, Dokter mengiyakan jawaban Nanda dan menjawabnya dengan tersenyum.
“Terus, orang tua dan teman saya serta teman-teman saya yang lainnya dimana Dok?”, Nanda bertanya kepada Dokter tentang orang tua dan teman-temannya.
“30 menit yang lalu ayah, ibu, dan adikmu datang kesini, ibu dan adik kamu menangis karena melihat keadaan kamu, ayah kamu hanya diam saja dengan raut wajah yang sedih, setelah itu orang tua kamu pergi pulang kerumah dan berpesan kepada saya apabila kamu bangun nanti segera telpon mereka ”, Dokter menjawab pertanyaan Nanda dan berputar-putar dan menyampaikan pesan dari orang tuanya
“Tunggu sebentar! Sepertinya saya pernah melihat Dokter, tapi dimana ya?”, dengan raut wajah yang bingung Nanda bertanya dan kemudian melihat wajah si Dokter yang sepertinya tidak asing lagi dilihatnya.
“Anda Jhordy Farhanto kan, iya anda Jhordy Farhanto kan?”, Nanda bertanya dengan nada yang seperti orang kaget karena tidak percaya
“Iya betul, aku Jhordy Farhanto, yang waktu itu pulang sama kau Nan, tapi aku berhasil loncat dari motor sebelum mobil itu menabrak kita, tapi kau gak sempat loncat dan akhirnya kau tertabrak dan mengalami pendarahan di kepala, dan akulah yang selama ini jadi Dokter yang merawat kau disini”, jelas Dokter tersebut yang ternyata adalah temannya Nanda ketika tabrakan yang hampir merenggut nyawanya tersebut.
“Jika kau disini Jhor dan jadi Dokter, terus Aghi, Lukman, Feli sama Adhit dimana? Dan mereka bekerja dimana?”, tanya Nanda tentang teman-temannya yang lain kepada Jhordy.
“Aghi, Lukman, Adhit dan Feli saat ini lagi di jalan mau kesini, Aghi sekarang udah jadi seorang dosen di Unri, Lukman sekarang udah jadi guru TIK di salah satu SMA di Pekanbaru ini, kalo Adhit udah jadi seorang pengusaha yang sukses, dan Feli, dia baru saja menyelesaikan S3 nya di Universitas Tri Sakti”, jelas Jhordy.
“Wah… aku gak nyangka yah, kalian sekarang udah jadi orang hebat dan sukses, tapi sayangnya mengapa aku bisa mengalami kecelakaan itu, jika tidak mungkin saja aku udah menjadi seorang yang sukses juga seperti kalian” Nanda hanya tertunduk dan sedih serta merenungi dirinya.
“Ini sudah takdirnya Nan, Allah telah mengatur semuanya, gak usah sedih gitu, mungkin suatu saat nanti kau bisa jadi orang yang sukses seperti kami, yaitu menjadi musis yang terkenal di Indonesia dan bisa membanggakan orangtua kau, itukan cita-cita kau dulu?”,
“Iya sih Jhor, benar apa yang kau bilang, mungkin Allah udah nentuin jalan yang terbaik buat aku, aku gak boleh nyerah, walaupun koma selama 9 tahun itu adalah waktu yang lama”, Nanda berkata dengan tekad yang kuat serta ia berdiri dari tempat ia koma.
“Iya Nan, aku dan yang lainnya aku mendukung kau kok, sampai kau sukses”, Jhordy berusaha menguatkan dan menyemangati Nanda.
            Saat Nanda dan Jhordy sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah orangtua Nanda serta Aghi, Lukman, Adhit dan Feli. Mama Nanda langsung terkejut dan menangis lalu memeluk Nanda dengan penuh rasa haru. Semua yang ada di dalam ruangan pun menjadi terharu.
            Keesokan harinya, Nanda pun pulang setelah mengalami koma yang cukup lama.  Dan menjalani kehidupannya yang baru bersama orangtua, teman-teman, dan orang lain disekitarnya yang menyayanginya serta sangat merindukan tawa dan candanya selama ini. Nanda yang awalnya seorang remaja 16 tahun dan murid SMA, sekarang sudah menjadi seorang lelaki 25 tahun yang mencari jati dirinya, yang selama ini ia di kuasai oleh alam bawah sadarnya.
            Kita tidak tahu apa yang terjadi sekarang atau esok, Tuhan sudah mengaturnya. Dan kini Nanda memulai kisah baru dalam hidupnya kembali setelah terbangun dari tidur panjangnya.
                                    ~SELESAI~
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar