Sabtu, 26 Juli 2014

PUISI - APAKAH API CINTAKU BERAKHIR DISINI?

APAKAH API CINTAKU BERAKHIR DISINI?
Oleh Nanda Abdul Karim

Di ruang malam
Penuh rindu dan kenangan
Di ujung malam
Penuh syahdu dan sendu

Lentera hatiku telah mati
Cahayanya telah habis
Tiada lagi api yang membakarnya
Sumbunya telah habis

Dimana warna untuk inginku?
Dimana hangat saat dinginku?
Apakah api cintaku berakhir disini?
Dapatkah aku temui sepertinya lagi?
 

PUISI - KAU DENGAN BUTAMU

KAU DENGAN BUTAMU
Oleh Nanda Abdul Karim


Kau dengan butamu
Mematahkan panah hatiku
 Aku semakin membisu
Saat kau tinggalkanku dengan senyum palsumu

Kini telah habis segalaku
Segelintir rasamu membabi-butakan nafasku
Kau hancurkan palung hatiku
 Kau bunuh dengan butamu

Pagiku terselimuti air mata
Malamku terbebani dunia yang lara
 Air mataku telah habis
Berhenti di telaga yang kering tiada mengalir

Wahai malam
Biarkan air mataku membasahi pipi ini
Biarkan ia mengalir
Membawa luka ini pergi sejauh mungkin 
 

Jumat, 25 Juli 2014

PUISI - AKU ADALAH SI PUTUS ASA

AKU ADALAH SI PUTUS ASA
OLeh Nanda Abdul Karim

 Aku adalah si putus asa
Yang pupus aharpan cintanya
Kau tinggikan hatiku
Lalu kau hempaskan hingga hancur

Debu berputar mengelilingiku
Melihatku yang patah
Ambisiku terlalu tinggi
Khayalku terlalu jauh

Sunggub aku putus asa
Hingga begitu seterusnya
Kini aku tiada tujuan
Rasaku telah tersapu ombak lautan

PUISI - DENGAN HUJAN

DENGAN HUJAN
Oleh Nanda Abdul Karim

Rintik hujan
Basahiku yang perih
Membasuhkan jiwa yang tengah lara

Rintik hujan
Dari langit yang kelam 
Menyirami jiwa yang penuh luka
Rintik hujan 
Menciptakan senyuman
Mengalirkan tenang dalam tetesnya

Dengan hujan aku berbagi tawa
Dalam hujan aku menari riang
Saat hujan perihku terlupakan
Karena hujan adalah sahabatku

PUISI - LAMUNAN SENJA

LAMUNAN SENJA
Oleh Nanda Abdul Karim

Sungguh indah
Lamunan di senja itu
Sungguh damai
Hangatkan jiwaku

Dengan lembut
Engkau menyentuh hatiku
Sungguh damai
Melihat senyum darimu

Kau alihkan mataku
Ku terbuai karenamu
Ku terpikat kepadamu
Dengan segala indahmu

Dengan tenang ku memandang
Dirimu di kala senja
Langit senja pun menyapa
Lamunanmu kepadanya

PUISI - SENANDUNG DI PAGI YANG SUNYI

SENANDUNG DI PAGI YANG SUNYI
Oleh Nanda Abdul Karim

Ku bernyanyi di pagi yang sunyi
Menikmati indahnya sendiri
Dingin embun menghapuskan sepi
Melepaskan keredupan hati

Ku bernyanyi di pagi yang sunyi
Berselimut hangatnya mentari
Perjalanan ini penuh arti
Menenangkan suasana hati

Bersenandung di pagi yang sunyi
Melupakan mimpi yang telah mati
Bersenandung di pagi yang sunyi
Menghapuskan luka tak berarti

Kamis, 24 Juli 2014

PUISI - MALAM YANG HILANG

MALAM YANG HILANG
Oleh Nanda Abdul Karim

Aku bersenandung dalam padang jiwaku
Menyelimuti sinar yang tak tampak di mata
Menatap lebih jelas lagi kesungguhan jiwa
Tak sadar tujuan dari arah diri

Tak kudapati seorang pun bernyanyi
Kurebahkan diri dalam hangat peluk sang mentari
Ku jelajahi lautan yang bergelombang
Mendengar kesenangan dalam kebencia

Aku berdiri seraya menanti malam
Kurindukan keindahan cahaya rembulan
Berseru kepada bintang malam
Berjalan di bawah kubah kelam

Ku arahkan pandangan kelintasan jalan
Seakan kesunyian menyentuh rasa takutku
Menyibak tirai hitam langit
Memahami seakan ini tak terjadi

Dunia sungguh kejam
Tak di antara mereka berjalan penuh riang
Hati terbinasa suara nan perkasa
Tak pernah hidup dengan tenang

PUISI - PUISI DI MALAM YANG SUNYI

PUISI DI MALAM YANG SUNYI
Oleh Nanda Abdul Karim

Sungguh sepi
Hampa menyelimuti
Sungguh dingin
Jiwa yang tertiup angin

Larutlah aku dalam kebisuan
Duduk bertemani rembulan
Puisiku tiada berbahasa
Diam di malam yang sunyi

Senin, 14 Juli 2014

PUISI - SEPENGGAL CERITA DALAM NELANGSA

SEPENGGAL CERITA DALAM NELANGSA
Oleh Nanda Abdul Karim

Aku bertanya
Apakah aku masih bisa bernafas?
Apakah aku masih bisa tertawa?
Apakah aku masih bisa tersenyum?

Aku merenung
Apakah dunia ini telah mati?
Dimanakah dinding-dinding yang membatasi
Dimanakah langit yang tinggi?

Mungkinkah semua telah habis?
Mungkinkah jiwa-jiwa telah hilang?
Sepenggal cerita dalam nelangsa
Sepenggal kata membunuh nyawa 

PUISI - PERCUMA AKU HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

PERCUMA AKU HIDUP SERIBU TAHUN LAGI
 Oleh Nanda Abdul Karim
 
Mati membusuk dalam tumpukkan bara api!
Terkikislah sudah harapan yang dicari
Semuanya seperti abu yang hangus terpanggang
Dan menjadi kumpulan yang terbuang

Banyak yang tak perduli
Percuma aku hidup seribu tahun lagi
Menangispun takkan di dengar
Untuk itulah aku ingin di bakar

Telah sampai waktuku untuk pergi
Nafas ini akan terbang tinggi
Aku tak perduli mereka menangisiku
Kini aku menuju duniaku

Jumat, 04 Juli 2014

PUISI - SEBELAS KOSONG DELAPAN 1997

SEBELAS KOSONG DELAPAN 1997
Oleh Nanda Abdul Karim

Di luar sana penuh getar
Mendengar jeritanku di atas dunia
Mataku masih terpejam
Namun suara menggema

Itulah pagi yang kunanti
Pelukan hangat penuh kasih
Dekapan halus penuh haru
Menyeka wajahku yang telah dinanti

Sebelas kosong delapan 1997
Aku terlahir ke dunia
Membawa kebahagiaan penuh suka cita
Hingga kini aku telah mampu berkata   

PUISI - SELAYAKNYA HATI

SELAYAKNYA HATI
Oleh Nanda Abdul Karim
 
Air laut tenangkan malamku
Meraih segala waktu dengan nafasku
Selayaknya hati menangkup rindu
Segalanya jiwa memanggil pilu

Berkelana jauh mengejar tanya
Begitulah hingga waktu menghentikannya
Suaranya mendayu jauh menggema
Selayaknya jiwa menahan rasa

Terbakarlah matanya di balik cahaya
Ia mengintip di balik maya
Bayangnya melintas memutar senja
Berhenti di bawah purnama