SEBUAH PENGHANCURAN
Oleh Nanda Abdul Karim
Suatu jejak. Pemukiman yang diselimuti langit senja. Tempat
para mereka menyuarakan nyanyian yang hanya bualan. Terasa asing memang.
Jikapun luka, palingan beberapa tetes darah yang membasahi, selebihnya
mengotori. Raut penyesalan yang tak kunjung habis. Aku dikelilingi ribuan sajak
kebencian. Dan aku tak mampu melawannya.
Suaraku hanya parau, suaraku tak lagi berwarna. Bermacam
derai berjatuhan dimana-mana. Kini jiwa rapuhku hanya berjalan dalam nalar
waktu yang tak berkesudahan. Ingin rasanya kutikam habis tubuh ini. Kecewaku
tak akan habis ceritanya. Sekumpulan para munafik berjalan dalam kesenangan,
tak lagi mengerti arah dari segala tempat aku berdiam menatap.
Nestapa. Tak mampu menatap kehancuran. Perlahan terpecah. Kapal ini tak sanggup lagi menahan
bebannya. Hingga akhirnya ia tenggelam…