Kamis, 17 April 2014

PUISI - TELAH JAUH TERLAMPAU USANG

TELAH JAUH TERLAMPAU USANG
By Nanda Abdul Karim

Telah jauh terlampau usang 
Ia turun dari puncaknya
Ia tahu dengan akalnya
Berkeliling malam tiba di bawah

Sudah terlampau rusak jiwanya
Batinnya tergores luka lama
Mendekati mati hatinya yang hampa
Jalan yang dulu terbengkalai panjang

Tak lagi ia tempuh jejaknya
Mengecap kering air muara
Hanya mengenang masa lalu
Terbayang luas keinginannya

Dunianya tenggelam hitam
Langitnya terlupakan sajak
Jubah jiwanya kian tergerus
Di balut sungai terbawa arus

PUISI - SETAPAK LANGKAH

SETAPAK LANGKAH
By Nanda Abdul Karim

Hidup setumpah cawan
Menatap tajam arah ke depan
Menantang satu terbelah awan
Liang jiwa kian terapatkan

Dirinya kini sehati memandang
Selalu terjatuh jejak menghilang
Bertemani cahaya yang terang
 Menjauh pergi bagai terbuang

 Tunjukkan dimana pasti adanya
Setapak jarak langkah jalannya
Menghantam jenuh remuk jiwanya
Menuntut tinggi luka lamanya

PUISI - DI BALIK CEMARA

DI BALIK CEMARA
By Nanda Abdul Karim

Tersembunyi di balik cemara
Rindang tinggi tempat berbatas
Jendela bergayutan mengambang batas
Terguling kelak zaman berbayang

Berputar langkah pacu memacu
Memanggil sinar yang kian mengabur
Berguguran dedaunan kering
Resah hati lama menanti

Canda tawa menghidupkan jiwa
Saling berganti nyanyian hati
Berbaring indah di atas tanah
Melihat asa di setapak masa

Tertunduk diam wajah bermuram
Tak pasti dimana adanya
Menghembus nafas melepas jiwa
Dirinya tahu dalamnya sendu
  

PUISI - GERSANG PADANG ILALANG

GERSANG PADANG ILALANG
By Nanda Abdul Karim

Anak-anak berlarian mengejar asa
Haluan angin menjejaki tanah kering
Padang ilalang bergelak tawa
Masa muda yang tiada habisnya

Tak semata pasir mengeras
Tak semena mata menepis
 Mengecil diri terbalut luka berduri
Terapit tandus gersang dan lapang

Kadang berjalan mengitari bumi
Melepas jiwa terbang meninggi
Tak mendapat kian merapat
Percakapan hunian wajah langitan

Warna jingga luntur bergugur
Perasaan berteriak kian bergejolak
Terikat kuat saling berjanji
Tinggalkan ruang bebas jauh melepas
 

Minggu, 06 April 2014

PUISI - DUKA NESTAPA



DUKA NESTAPA
By Nanda Abdul Karim

Terbaring lemah di ufuk senja
Jangan tanya siapa yang menangis
Dari dulu memang begitu
Ia takkan beranjak pergi

Aku tak tahu alasannya
Tersabut oleh kabut malam
Duka nestapa menumpuk luka
Lepas hembusan nafas yang panjang

Hanya waktu yang menjawab
Tajam arah mata melihat
Meniti jalan kepedihan
Berani hidup melawan mati

Waktu kian berjalan
Tak menentu kapan berhenti
Rupa menua raga merenta
Bagai perahu di atas samudera

Selasa, 01 April 2014

PUISI - KU LUKAI KAU DI MALAM INI



KU LUKAI KAU DI MALAM INI
By Nanda Abdul Karim

Bukan maksud menyakiti
Entah apa yang merasuki
Ku lukai kau di malam ini
Sungguh tak sanggup menahan hati

Ku tak bisa melepaskanmu
Semuanya masih terlintas di benakku
Malam mencekam antara kau dan aku
Tiada bicara saling membisu

Maaf aku terlalu kaku
Tak sepantasnya aku begitu
Ku tulis puisi ini untukmu
Ku tulis namamu di hatiku

Jangan pergi tinggalkan hati
Jangan hancurkan lentera hati
Cukup hanya kau disini
Cukup hanya kau menemani

PUISI - KAU TIKAM AKU



KAU TIKAM AKU
By Nanda Abdul Karim

Aku tak gentar sebelum mencengkram
Selama masih ada lautan gelombang
Cekikan tajam perih mengiris
Menarik diri hilang terbenam

Isi hati tak sepenuhnya bahagia
Merana meratapi kekosongan
Menembus menjelajah dunia
Tiba-tiba saja jiwaku tenggelam

Kau hancurkan ranting-ranting hatiku
Kau patah remukkan dan tinggalkan
Pergi begitu saja tanpa kata
Memutuskan ikatan segala

Kau tikam pedangmu ke jantungku
Aku terjatuh runtuh
Kepada siapa aku mengadu?
Nafasku habis terhenti waktu

PUISI - RAHASIA DI BALIK MIMPI



RAHASIA DI BALIK MIMPI
By Nanda Abdul Karim

Gerak kaki lincah menari
Berkeras hati tak ingin mati
Bertemu hidup yang pendahulu
Biarkan arahku di tuntun angin

Lepas senandung sambil mencari
Rahasia besar di balik mimpi
Begitulah terus berkepanjangan
Jalan mencari garis kepastian

Berlari lagi terpikat senyum
Haru syahdu hidup bertemu
Tak terkira bintangku menanti
Ku dekap halus kesetiaan hatiku

Sebab aku telah merindu
Teratasi hangat peluk kekasihku
Perempuan pujaan dalam mimpiku
Membawa aku kembali bersatu