Selasa, 13 Mei 2014

PUISI - BURUNG CAMAR

BURUNG CAMAR
by Nanda Abdul Karim

Burung camar terbang di senja yang senyap 
Berayun halus mengepakkan sayap
Terbang merendah jauh menghinggap
Dengan tenangnya ia berharap

Berdentinglah tetes air di telaga
Khayal yang tinggi tak terhingga
Mengetuk ruas ruang-ruang surga
Ia berdiri tiada bangga

Yang terdahulu tertulis pilu
Yang tekah lalu dalam masa lalu
Yang tertutupi hitam selalu
Yang meradang penuh kelu

Syair tersampaikan baitnya
Tertulis dalam catatannya
Huruf-hurufnya kalimat nyata
Kalimatnya menjadi kata-kata

PUISI - NADA-NADA

NADA-NADA
by Nanda Abdul Karim

Derai jiwaku hancurkan langitku
Habislah bertepuk tanpa sisa
Hitam bagaikan arang terpanggang
Hilang saat ombak menerjang

Lirih menangis dalam gulita
 Usang raga dingin menerpa
Lunturlah warna di waktunya
Gugurlah bunga di musimnya

Diam hanyalah mataku
Suara hanyalah hatiku
Langkah hanyalah hidupku
Mati adalah jalanku
  

Sabtu, 10 Mei 2014

PUISI - DEMIKIAN RASA AKU SAMPAIKAN

DEMIKIAN RASA AKU SAMPAIKAN
By Nanda Abdul Karim

Ku tulis sebuah sajak rindu
Ku kirimkan kepada pujaan hatiku
Kata yang indah menyentuh kalbu
Dalam hatiku satu dirimu

Demikian rasa aku sampaikan
Cinta yang menggebu hingga ke permukaan
Dua titik air terteteskan
Mencairkan suasana penuh kehangatan

Sungguh aku terlalu sayang
Sungguh aku tak ingin kau hilang
Dengarlah angin berlalu lalang
Disana kitalah satu bintang

Angkasa luas indah terhampar
Nyanyian malam takkan pudar
Dalam hangat kita terdampar
Untuk nanti kita mengikat ikrar
  

PUISI - DI BATAS CAKRAWALA

DI BATAS CAKRAWALA
by Nanda Abdul Karim

Di batas cakrawala aku menangis
Terdiam di atas batu dan meringis
Keterpurukan yang tiada pernah habis
Usia muda yang kian terkikis

Hingga senja nanti kita bercerita
Mulut terkunci telah habis kata
Selalu ada malam penuh derita
Pipi terbasahi air mata

Riak-riak air meleburkan perasan
Lika-liku mewarnai perjalanan
Tangan-tangan menggenggam halus harapan
Dalam senja yang akan tergantikan
 

PUISI - SEMANGAT KEHIDUPAN

SEMANGAT KEHIDUPAN
by Nanda Abdul Karim

Hujan  gerimis menabur tangis
Bergemuruh riang menembus tajam
Angin bersahutan menghembus arah
Menyentuh ujungnya bumi

Jendela tertumpahi rintiknya
Tiada yang lebih indah dari ini
Tiada yang lebih baik seadanya
Tiada yang lebih buruk sedia kala

Semangat kehidupan sungguh kuat
Kulit-kulit kaki kian mengeras
Jarum dan duri tiada terasa
 Tumpahan langit menusuk dalam

Sergapan malam menjaring asa
Mengais rupiah dalam gerimis
Bertebaran jutaan harapan
Senyum akan terus mengulas hati

PUISI - MENUNGGU WAKTU

MENUNGGU WAKTU
 by Nanda Abdul Karim

Terpupuk rasa di antara naungan
Getaran dalam imajinasi waktu
Telah ku buka perlahan pintu jiwaku
Hingga tiada lagi rahasia dalam diriku

Kau temui aku yang telah ternodai  
Sebab aku telah di ujung akhir
Tertunduk muram perjalanan sedihku
Yang ku tempuh tiada tertuju

Tiap detik nafasku berpacu
Pucat pasi sekujur tubuhku
Ku lawan denyut nadi yang kian melemah
Menerima hatiku dari telapak tangan yang kasar

Air mataku habis tiada tersisa
Diam-diam embun menyentuh kalbu
Menenggelamkan jiwa-jiwa khianat
Nuraniku terbang menemukan tempatnya