Sabtu, 17 Oktober 2015

CERITA DALAM KATA - SEBUAH PENGHANCURAN



SEBUAH PENGHANCURAN
Oleh Nanda Abdul Karim

Suatu jejak. Pemukiman yang diselimuti langit senja. Tempat para mereka menyuarakan nyanyian yang hanya bualan. Terasa asing memang. Jikapun luka, palingan beberapa tetes darah yang membasahi, selebihnya mengotori. Raut penyesalan yang tak kunjung habis. Aku dikelilingi ribuan sajak kebencian.  Dan aku tak mampu melawannya.


Suaraku hanya parau, suaraku tak lagi berwarna. Bermacam derai berjatuhan dimana-mana. Kini jiwa rapuhku hanya berjalan dalam nalar waktu yang tak berkesudahan. Ingin rasanya kutikam habis tubuh ini. Kecewaku tak akan habis ceritanya. Sekumpulan para munafik berjalan dalam kesenangan, tak lagi mengerti arah dari segala tempat aku berdiam menatap.


Nestapa. Tak mampu menatap kehancuran. Perlahan  terpecah. Kapal ini tak sanggup lagi menahan bebannya. Hingga akhirnya ia tenggelam…


Rabu, 25 Februari 2015

CERITA DALAM KATA - LEMBARAN MIMPI



Lembaran mimpi
Oleh nanda abdul karim

        Lembaran mimpi. Rangkaian cerita yang tenang dan pudar. Berpecah khayal dalam setiap halaman. Tinta akal terus menetes tanpa terkecuali, merajut kata yang penuh makna. Garis-garis lentera menerangi samudera jiwa, lalu ia redup tanpa pesan. Mendengar suara mereka dalam masu lalu tanpa benang, di tengah penghitaman kalbu yang perlahan hilang.
       
        Pantaskah berbangga? Memandang paras waktu yang terparuh tudung senja. Tiada sebuah pengharapan di dalam pemikiran, walau kidung alam terus berbisik. Jejak mereka pada tanjakkan hanyalah awal, hingga terjangan kepedihan menyerangnya. Tiada satupun menyaksikan, mereka terus berpaling dari kehidupanku.

        Begitu rapatkah kebencian di dalam hati? Masa lalu kehidupanku melebur dalam debur ombak yang membenamkan benih awan. Lalu, masih layakkah suara bergema dengan syair?

CERITA DALAM KATA - SEBELAS NYAWA



SEBELAS NYAWA
Oleh nanda abdul karim

     Aku tak pernah menjumpai nyawa kebahagiaan. Aku terlalu haus untuk mendakinya, seperti lupa akan buruknya hati. Sekuntum mimpi yang pernah tersemat kini telah terlepas dari dasarnya. Menyadari akan hal yang tiada kuperoleh dari nafasnya. Mungkin terlalu awal menyangkal dan terlalu cepat meninggalkan.

        Awan mendung penampung kesedihanku telah mengalir deras dari langit. Membasahi nyanyian burung-burung gereja yang tengah bertenang diri di ranting ketenangan. Patah! Hancurlah perapiannya yang indah. Kotak tertawaku telah hilang dan ia takkan pernah kembali. Dan aku masih tetap mencari keberadaan mereka, keberadaan yang menunjukkan kemunafikkan.
       
        Lara! Hujannya begitu pedih, hingga menyentuh rusukku yang damai di dalamnya. Mengapa jalanmu begitu mulus? Dan mengapa jalanku berlubang.
       
        Lihatlah, betapa tersiksanya jiwa ini. Dan bilaku pergi dari keramaian ini, mungkinkah aku dapatkan ketenangan di dalam sunyi?

Kamis, 19 Februari 2015

CERITA DALAM KATA - CERITA CINTA SANG PENYAIR YANG PATAH



CERITA CINTA SANG PENYAIR YANG PATAH
OLEH NANDA ABDUL KARIM



Bertemu dengannya kembali. Pagi dan malam Ia menyapa setiap jiwa. Setiap tetesnya membaur dalam haru dan deru. Sisa-sisa malam masih tertinggal. Merebut pagi yang akan tiba. Raut pagi dan keindahannya tampak memudar. Bersama aku yang telah tertinggal dan telah terbiasa memudar. Meredalah jiwaku akan keinginan itu, kita akan terpuruk karena tingginya. Seperti adanya, dan aku tak bisa menjadi seperti inginnya.

Kala ku bercerita tentang rasa yang pernah ku punya kepada dirimu, disitu aku hanya mengawalinya tanpa tanda memecahkan kita. Dara, kaulah inginku, rasalah cinta merpati yang patah ini. Aku tak tau apa yang kau butuhkan, namun aku selalu berusaha dan terus berusaha. 

Ketika aku berjalan menuju hatimu, disitu aku menemui persimpangan, dan kutemui tiada keyakinan di dalam hatimu. Ku cintai senyuman itu, walau tak seindah senyuman di masa lalu. 

Dengarlah dara, kehidupan antara dua hati yang Lara. Kau dan aku, kisah cinta yang patah. Kenanglah rindu sang penyairmu ini dalam sebuah sajak cinta. Kau dalam masa laluku, namun kau tetap dalam mimpiku. Akan tetap mengalun, tempat menuntun semua rasa semuku. Dan kau takkan pernah mengerti, walau seribu sajak cinta dalam alunannya. Kau takkan mampu mendengarnya, bahkan bilaku meneriakkannya dalam sebuah gaungan malam. 

Aku akan tetap abadi dalam setiap hembus nafasmu. Dan aku tidak akan membisikkan sesuai kelemahanmu. Dan aku hanya mencobanya, bukan berarti memaksa arah jalannya. Karena hanya akulah yang tersakiti menahan rasa ini dan kau mungkin akan tenang menikmatinya. 

Sebuah kisah cinta dalam pertemuan terakhir jiwa. Inilah kisah lelaki yang mendambakan cinta yang semu.