Lembaran
mimpi
Oleh
nanda abdul karim
Lembaran mimpi. Rangkaian cerita yang
tenang dan pudar. Berpecah khayal dalam setiap halaman. Tinta akal terus
menetes tanpa terkecuali, merajut kata yang penuh makna. Garis-garis lentera
menerangi samudera jiwa, lalu ia redup tanpa pesan. Mendengar suara mereka
dalam masu lalu tanpa benang, di tengah penghitaman kalbu yang perlahan hilang.
Pantaskah berbangga? Memandang paras
waktu yang terparuh tudung senja. Tiada sebuah pengharapan di dalam pemikiran,
walau kidung alam terus berbisik. Jejak mereka pada tanjakkan hanyalah awal,
hingga terjangan kepedihan menyerangnya. Tiada satupun menyaksikan, mereka
terus berpaling dari kehidupanku.
Begitu rapatkah kebencian di dalam hati?
Masa lalu kehidupanku melebur dalam debur ombak yang membenamkan benih awan.
Lalu, masih layakkah suara bergema dengan syair?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar