SEBELAS
NYAWA
Oleh
nanda abdul karim
Aku
tak pernah menjumpai nyawa kebahagiaan. Aku terlalu haus untuk mendakinya,
seperti lupa akan buruknya hati. Sekuntum mimpi yang pernah tersemat kini telah
terlepas dari dasarnya. Menyadari akan hal yang tiada kuperoleh dari nafasnya.
Mungkin terlalu awal menyangkal dan terlalu cepat meninggalkan.
Awan mendung penampung kesedihanku telah
mengalir deras dari langit. Membasahi nyanyian burung-burung gereja yang tengah
bertenang diri di ranting ketenangan. Patah! Hancurlah perapiannya yang indah.
Kotak tertawaku telah hilang dan ia takkan pernah kembali. Dan aku masih tetap
mencari keberadaan mereka, keberadaan yang menunjukkan kemunafikkan.
Lara! Hujannya begitu pedih, hingga
menyentuh rusukku yang damai di dalamnya. Mengapa jalanmu begitu mulus? Dan
mengapa jalanku berlubang.
Lihatlah, betapa tersiksanya jiwa ini.
Dan bilaku pergi dari keramaian ini, mungkinkah aku dapatkan ketenangan di
dalam sunyi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar