Senin, 27 Oktober 2014

PUISI - KAU DAN AKU DALAM CERITA TANPA NADA

KAU DAN AKU DALAM CERITA TANPA NADA
Oleh Nanda Abdul Karim


Kau mendengar syair di laut biru
Aku mendengar lagu di awan putih
Apakah kita bisa bertemu di dermaga?
Dengan rupa yang telah berbeda

Tak perlu menangis menghadapi api
Tak perlu menyerah menerjang hujan
Kau menyerukan prahara hidupmu
Aku menyerukan kesengsaraan langitku

Mimpi kita habis tanpa langkah
Dan tinggal terbujur tanpa nada
Tidak ada satupun suara makna
Bisu kita yang lumpuhkan semua
  

PUISI - KITA MENULIS DI ATAS KERTAS YANG TERBAKAR

KITA MENULIS DI ATAS KERTAS YANG TERBAKAR
 Oleh Nanda Abdul Karim

Aku dan kau
Kita menghilang dalam rasa yang semu
Menciptakan suara yang menggema
Memahat sendiri wajah kita di hati

Kita diselimuti sandirawa dunia
Tak seorang pun tahu tutur katanya
Nanti, tiada lagi abadi yang mengejar
Kita memburu terik di ufuk barat

Kita lahir dalam genggaman yang kuat
Menyerahkan tangan yang lemah terkulai
Kita menulis di atas kertas yang terbakar
Yang hanya tinggal abu tanpa seberkas kata
  

PUISI - KETIKA KAU DAN AKU

 KETIKA KAU DAN AKU
Oleh Nanda Abdul Karim

Ketika kau dan aku berada di puncak mimpi
Adakah kita saling mengerti?
Menyadari kelupaan diri
Tak acuh lalu pergi

Ketika kau dan aku berada di tengah ragu
Adakah kita saling bertemu?
Melihat kembali jejak silam di waktu itu
Mengenang kembali hangat di samping api tungku

Ketika kau dan aku berada di bawah kegagalan
Adakah kita saling membuka pembicaraan?
Membiarkan kita terpuruk di lubang yang dalam
Membiarkan kita terjatuh dari tebing yang curam

Ketika kau dan aku terpisah jauh
Adakah kita memikirkan satu sama lain?
Bilakah kita berjumpa lagi?
Belari bersama berkeliling bumi?

PUISI - SEPERTI INDAHMU

 SEPERTI INDAHMU
Oleh Nanda Abdul Karim

Tak jemu aku memandangmu 
Tak jenuh jiwaku mendengar suaramu 
Abadilah setiap tutur katamu dalam hatiku 
Indahmu selalu kurindu

Anggunmu terpancar dibalik sederhana jiwamu 
Memenuhi lubang hati yang pilu 
Senyummu memberi arti baru 
Bunga hati di surga mimpiku

Kering hatiku yang kelabu 
Tetesilah dengan perasaan halusmu 
Sentuhlah, seperti engkau menyirami mawar yang layu 
Bawa dalam hangatmu

Minggu, 26 Oktober 2014

CERITA DALAM KATA - HABISLAH JIWAKU MENJADI ABU



         HABISLAH JIWAKU MENJADI ABU
Oleh Nanda Abdul Karim

          Aku tidur dalam kesendirian, dengan jenuh yang mencekam. Menjadi puncak akhir kisahku yang terbelenggu ragu dalam balutan kisah cintaku yang bisu. Aku hanya menjadi puing di dalam nalarku sendiri, dengan jiwa yang penuh ego ini. Ambillah belatimu, tusuk aku tepat di dada ini. Biar ku tanggung perihnya bagaimana aku melewati duri-duri ini.

        Patahkanlah sayap khayalku ini! Agar ku tak dapat lagi terbang mengusik hidup dan fikiranmu! Mengejarmu bagaikan mengejar angin yang tak tampak dimata. Buanglah aku di penghujung malam. Hilangkan aku dikala aku terlelap penuh bimbang. Seret jiwaku agar kau tenang di dalam kesengsaraan yang terus mengusikmu.

       Menjelanglah pagi. Ayam pun berkokok membangunkan insan yang lemah tiada daya. Aku terkapar. Tergeletak diantara puing-puing bara api yang memanaskan jiwaku. Aku di kelilingi jiwa yang penuh api amarah, yang membara di kedua bola mata mereka. Aku tak bisa bergerak. Nafasku hilang. Jantungku berdegup kencang. Lalu bara panas itu menancap di kedua mataku. Aku berteriak kuat, namun percuma. Dan, habislah jiwaku menjadi abu. Menjadi tumpukkan hina di atas segala penderitaanmu.

PUISI - PANCARANMU

  PANCARANMU
Oleh Nanda Abdul Karim
 
 Awan menari riang di atas angkasa 
Melihat ceria senyummu 
Rambut hitam itu terhembus angin 
Paras indahmu mengguncang jiwaku 

Matamu menatap indah kepada dunia 
Bibirmu melukis kata yg tiada pernah terucap 
Jiwaku bergetar hebat
Melambungkanku ke nirwana 

Sejuknya udara menyapu derita 
Sang surya terpancar dari dirimu 
Menyinari sudut hatiku yang kelam 
Menepiskan segala perih jiwaku

Suaramu nyanyian hatiku 
Jiwamu embun di pagiku 
Tentram mendengar engkau berujar
Damai melihatmu di antara larik pelangi

Keraguan nafasku berhenti 
Mengalirkan kepastian di antara rindu 
Aku terdampar indah tiada luka 
Hadirmu anugerah terindah

PUISI - PEREMPUANKU

 PEREMPUANKU
Oleh Nanda Abdul Karim

Perempuanku... 
Dalam hujan kau tersedu 
Terduduk di tepi bangku 
Menunggu setangkup rindu yang membelaimu

Perempuanku... 
Langkah kakimu mengiringi hujan 
Gemericik airnya membasahi jiwamu 
Kala engkau di tenggelamkan kecewa

Buanglah rasa perih yang teramat dalam 
Bawa dalam lautan nirwana 
Dalam batas kesabaranmu 
Dalam akhir kesedihanmu

Selasa, 21 Oktober 2014

CERITA DALAM KATA - PATAHLAH RASAKU

PATAHLAH RASAKU
Oleh Nanda Abdul Karim

    Hitamlah langit ditengah-tengah rasa. Puisi malam yang terbakar api kekecewaan. Larut dalam sepenggal cerita yang nestapa.

   Merah menyala apiku yang panas ini. Sunggu tak teredam lagi oleh deru-deru ombak. Gelombang rasa terus bergejolak tiada henti. Membusuklah aku bersama abu lukaku yang kering kerontang.

   Bila aku tiada mengucap rasa lagi kepadamu, pergilah, aku takkan harapkan hatimu kepadaku. Matilah dalam cintaku yang telah terkubur ini. Menyisakan kepahitan disudut-sudut jiwa.
    

Minggu, 19 Oktober 2014

PUISI - INDAHNYA MENCINTAIMU

INDAHNYA MENCINTAIMU
OLeh Nanda Abdul Karim

Namamu mengguratkan cinta
Ada dalam setiap hembus nafasku
Damainya hatiku didekatmu
Indah didalam nuansa
Langkahku terasa tenang
Alangkah damainya bersamamu

Celah hatiku terbuka
Impianku menggelora
Nafasku berhembus merdu
Detik waktu terus berjalan
Iringi perjalanan kau dan aku

Walau tak semerbak mewangi mawar
Aku takkan pernah ragu
Nyanyian dalam perasaan hatiku
Tuntun aku menuju hatimu
Angkasa luas menyaksikan tawamu
Relung jiwaku dipenuhi taman cinta
Indahnya mencintaimu

Kamis, 09 Oktober 2014

PUISI - TERUSLAH BERNYANYI

 TERUSLAH BERNYANYI
Oleh Nanda Abdul Karim

Bangunlah di pagi yang indah 
Tempat engkau menggapai asa 
Bunuh segala ragumu 
Patahkan segala lemahmu

Terlelaplah untuk sejenak 
Menghilangkan pahitnya hidup 
Melupakan tamparan dunia 
Mencari ketenangan di antara rerindangan

Menjauhlah dari sunyi 
Teruslah bernyanyi 
Barisan mimpi menunggumu 
Menyiapkan jenjangnya untuk kau naiki

PUISI - AKU BERSENANDUNG MENUNGGUMU

 AKU BERSENANDUNG MENUNGGUMU
Oleh Nanda Abdul Karim

Wahai Viny 
Engkaulah mimpi pewarna hari 
Biarlah puisiku menghapus laramu 
Tatkala engkau tiba dilelahmu

Wahai Viny 
Engkaulah bunga matahari 
Biarlah senyum itu terlukis indah
Bagai bunga yang kian merekah

Aku bersenandung menunggumu 
Biarlah hingga aku terlelap 
Bangunkan aku bila malam telah tiba 
Dimana waktuku sekejap memandangmu

PUISI - LUKA DI ANTARA LEKUK PELANGI

LUKA DI ANTARA LEKUK PELANGI
Oleh Nanda Abdul Karim
Untuk lekuk pelangi yang indah
Menabur benih rindu disana
Menghias awan yang putih
Memandang langit yang biru

Tergambar jelas dalam pandangku
Mengapa langitku tak lagi cerah?
Adakah jiwa yang menanti bahagia?
Meruak di dalam bathinku

Ruas-ruas hatiku kelabu
Tenggelam bersama perasaan yang semu
Terlepas bersama kebutaanmu
Yang tiada teresapi di sukmamu
 

PUISI - SYAIR BARU DI LANGIT YANG BIRU

 SYAIR BARU DI LANGIT YANG BIRU
Oleh Nanda Abdul Karim

Aku telah bangkit 
Menyampaikan syair yang telah terbengkalai 
Memutar alunan nada yang di nanti 
Di kala hujan membasuh perih

Angin utara bertemu hujan 
Melintas perlahan-lahan 
Berhembus tenang dalam keanggunan 
Sarat akan kepastian 

Buaian mimpi yang menjaga 
Menggelorakan sejuta asa 
Di kemudian hari mata terbuka 
Melihat jiwa yang tertawa

PUISI - SEBUAH PENGAKUAN DARI JIWA YANG LUPA

 SEBUAH PENGAKUAN DARI JIWA YANG LUPA
OLeh Nanda Abdul Karim

Inilah aku
Sebuah pengakuan dari jiwa yang lupa
Mengumbar tanya dimana-mana

Inilah aku
Secercah cahaya yang redup
Hilang bila fajar kembali

Sulitkah untuk memutari waktu?
Sulitkah untuk merasakan angin?

Seumpama langit yang tenang
Adakah aku dirasakan?
Ataukah aku ditinggalkan
Bila pagi datang menjelang?

Mungkin aku yang terlalu diam
Hingga jiwa-jiwa itu melupakanku
Hingga hari-hariku berlalu jauh
Bersama pagi yang tertutupi bisu

PUISI - ADAKAH YANG LAIN DI HATIMU?

ADAKAH YANG LAIN DI HATIMU?
Oleh Nanda Abdul Karim

Adakah yang lain di hatimu?
Mengapa kau selalu menjemukanku?
Bilakah engkau menjawab tanya ini?
Adakah yang kau simpan di hatimu?

Selalu tanya ini yang ku ulangi
Mengapa kau selalu bisu?
Seakan kau tuli dalam jiwamu
Seakan kau buta dalam hatimu

Adakah yang lain di hatimu?
Mengapa kau selalu memuakkan?
Mengakhiri ini sangatlah mudah
Melupakan ini sangatlah susah  

PUISI - TAK SEHARUSNYA ENGKAU KECEWA

TAK SEHARUSNYA ENGKAU KECEWA
Oleh Nanda Abdul Karim
 
Menunggu itu melelahkan
Membebani akal yang diam
Bagai duri yang merajam
Bagai sembilu yang menyayat perlahan

Terik mentari memanasi jiwa
Melangkah di jalan yang bisu
Memutar angin di segala arah
Memutus asa di kebuntuan

Apa yang ada dibenakmu?
Selalukah engkau mematahkah sayapku?
Tak selayaknya engkau bertanya!
Tak seharusnya engkau kecewa!
 

PUISI - ADAKAH ENGKAU MERASAKAN JIWAKU?

 ADAKAH ENGKAU MERASAKAN JIWAKU?
Oleh Nanda Abdul Karim

Apiku padam 
Mati di basahi hujan 
Jiwaku kelam 
Hancur di ujung jalan

Ubahlah jiwaku!
Sanggupkah engkau menggantikan lelahku!?
Mengapa tak hatimu yang menghujani? 
Mengapa harus hujan yang membasahi?

Bawalah darah ini! 
Tempatkan di pertemuan nadimu 
Di segala penjuru hati 
Adakah engkau merasakan jiwaku?

PUISI - MUNGKINKAH PAGI YANG AKAN TERSENYUM?

MUNGKINKAH PAGI YANG AKAN TERSENYUM? 
Oleh Nanda Abdul Karim

Embun ini 
Begitu cepat meninggalkan pagi 
Mendatangkan sejuta mimpi 
Berhembus deras merasuk diri

Lara ini 
Begitu dalam menusuk hati 
Menjejakkan perih didasarnya 
Bersembunyi menggores luka

Aku tertidur di sela-sela langit
Mengharapkan awan datang menghibur
Mungkinkah pagi yang akan tersenyum?
Ataukah pagi yang akan menangis?

Rabu, 08 Oktober 2014

PUISI - JADILAH BUNGA PENGHIAS TIDURKU

 JADILAH BUNGA PENGHIAS TIDURKU
Oleh Nanda Abdul Karim

Mengertilah adanya diriku
Ketuk hatiku dikala selimutku menjadi abu
Tuangkanlah senyum indahmu
Buat aku merasakan waktuku

Keanggunan itu menumpahkan senyum
Menyeruak di balik mawar yang harum
Mendatangkan sedikit tawa
Meringankan beban jiwa

Hapuslah segala piluku
Ubahlah muram di raut wajahku
Datanglah di taman mimpiku
Jadilah bunga penghias tidurku