HABISLAH JIWAKU MENJADI ABU
Oleh Nanda Abdul Karim
Aku tidur dalam kesendirian,
dengan jenuh yang mencekam. Menjadi puncak akhir kisahku yang terbelenggu ragu
dalam balutan kisah cintaku yang bisu. Aku hanya menjadi puing di dalam nalarku
sendiri, dengan jiwa yang penuh ego ini. Ambillah belatimu, tusuk aku tepat di
dada ini. Biar ku tanggung perihnya bagaimana aku melewati duri-duri ini.
Patahkanlah sayap khayalku ini! Agar ku
tak dapat lagi terbang mengusik hidup dan fikiranmu! Mengejarmu bagaikan
mengejar angin yang tak tampak dimata. Buanglah aku di penghujung malam.
Hilangkan aku dikala aku terlelap penuh bimbang. Seret jiwaku agar kau tenang
di dalam kesengsaraan yang terus mengusikmu.
Menjelanglah pagi. Ayam pun berkokok
membangunkan insan yang lemah tiada daya. Aku terkapar. Tergeletak diantara
puing-puing bara api yang memanaskan jiwaku. Aku di kelilingi jiwa yang penuh api
amarah, yang membara di kedua bola mata mereka. Aku tak bisa bergerak. Nafasku
hilang. Jantungku berdegup kencang. Lalu bara panas itu menancap di kedua mataku.
Aku berteriak kuat, namun percuma. Dan, habislah jiwaku menjadi abu. Menjadi tumpukkan
hina di atas segala penderitaanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar