UNTUK
SEBUAH KOTA YANG BERNAMA ACEH
Oleh Nanda
Abdul Karim
Pergi dalam perbatasan, ketika malam mulai
menghilang. Tak ada lagi darah yang menetes lewat nadiku. Semua berlalu begitu
saja tanpa ada pesan yang membuatku percaya. Berjalan menuju sebongkah intan
yang berkilau, namun itu hanya semu. Lukisan ini tak bernyawa, namun berarti
bagiku. Tak banyak yang mengerti tentang adanya khayal ini. Rahasia ini memang
sungguh rahasia, tak ada yang takjub, tak pun ada yang membacanya dan tak ada
yang menjumpai.
Melintasi batas yang memang terbatas.
Saat pagi mulai menghembuskan dingin, saat langit mulai membiru, tak kutemui
jiwa yang terbangun. Tempat ini sungguh sunyi, bagai laut tanpa ombak, sunyi
sekali. Aliran air ke muara sungguh tak berdecik. Embun pun enggan untuk
menyentuh sukmaku. Apa yang terjadi pada pagi ini?
Lihatlah, muara itu begitu kosong, bagai
terhujam kemunafikkan hujan. Banyak yang tenggelam dalam kenistaan, banyak yang
mati dalam kehinaan dan banyak yang mati dalam senyuman serta pelukan. Jam terasa tak berdetik.
Kala itu memang mencekam jiwa, akupun diambang ketakutan yang kuat.
Jalan-jalan ini penuh lumpur, menghambat langkah kaki yang kuat berjalan.
Mengapakah begini?
Sebuah kisah dalam sebuah berita. Aku tak
mampu lagi memainkan kata, ini begitu pedih. Air mata berurai dalam, untuk
sebuah kota yang bernama ACEH……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar