Tersimpuh luka
Oleh nanda abdul karim
Sudah lewat tengah malam, mengapa embun tak kunjung datang?
Begitu tertekan malamku yang hampa. Dimana gelak tawa yang harmoni? Sebab
apakah cahayanya mati?
Haruskah aku peduli kepada bunga-bunga
tidur? Membuka jendela saja aku tak ingin, mengapa aku harus peduli? Sungguh
pengkhianatan yang besar dari langit kepadaku. Ia tak seindah yang ku
bayangkan, hanya sisi luarnya saja yang menawan.
Aku merenungkannya. Lalu kutaruh seikat
ketenangan di tempat yang bernama jiwa. Lalu kulepas penghalang yang bernama
ego dan amarah. Ku kenakan selembar kapas yang bernama hati nurani untuk
menuntun jiwa menuju ketenangan surgawi. Ku koyak kulit yang bernama benci,
lalu ku campakkan ke dalam tumpukkan belatung-belatung dosa.
Alampun bersorak gembira. Embun telah dating.
Di selanya, ia meniupkan kesejukkan bersama dengan iring-iringan gitar yang
bernama kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar