Senin, 26 Januari 2015

PUISI - APALAGI SEKARANG?




APALAGI SEKARANG?
OLEH NANDA ABDUL KARIM

Apalagi sekarang?
Sudah tampakkah pengaduanku ini?
Terus, apalagi sekarang?
Sudah datangkah kepedulian nurani?

Paras-paras layu terbaring
Mereka diam dalam ketidaktahuan
Piano-piano nyawa berdenting
Mereka menari menunggu keilhaman

Merekalah nyawa dalam senyapnya ruang
Tempat menyendiri di ujung takdir
Mereka tiada menahu tentang siang
Tempat cerita mereka menunggu keringnya

Sabtu, 17 Januari 2015

CERITA DALAM KATA - ILALANG SENJA



ILALANG SENJA
OLEH NANDA ABDUL KARIM

        Ilalang bergelak tawa, bersahutan kala senja, menggelitik jiwa. Takkan terjatuh air mata, disini tempat menuai benih-benih asmara. Di tempatnya, jingga kian indah menampak, sedang manusia menutup jendela di waktunya. Melihat dalam diam di atas ruang pertemuan nafas. Yang terdekat untuk meraih  pucuk-pucuk mimpi nan bergelimang, memutarinya untuk waktu yang panjang.

        Sementara itu, aku menemukan riangnya sukma yang disentuh alam. Kunci tempat kita menuju bintang dan menari di atas awan yang bergumpal. Merebahkan diri dan membiarkan jiwa terhanyut ke dalam lelapnya dunia

CERITA DALAM KATA - KECEWA YANG TERDALAM



KECEWA YANG TERDALAM
OLEH NANDA ABDUL KARIM


        Sebait luka menghampiriku, jauh mendasar menghembus nadi. Dan kesenyapan dunia memenuhi relung jiwa. Demikianlah aku terdiam untuk setetes perasaan semu. Angin mengiringi barisan lantunan syair-syair burung camar. Langit melafalkan makna di suatu kesedihan yang merenggut ceria di setiap waktu.
        Aku terjatuh ke dalam lubang, tanpa ada udara yang menyentuh sepercik keinginan. Menyendiri di tempat terpencil, terisak sekian lamanya. Laut melepaskan ombaknya memikul pertengahan, menepi di ujung karang yang diam. Memikul apa yang disebut melebihi kecewa, seperti di ikuti segerombolan serigala malam yang melolong membisingkan sunyi.
        Lalu, bunga mawar pun layu dan aku menangis di dalam kenangan yang patah. Ketika aku menatap langit, hanya awan hitam yang tampak, tanpa ada warna setitikpun. Aku menjauh, menjelajahi dalamnya hutan yang kelam. Tergelincir di kekecewaan yang membunuh hati. Di tempat aku melukis mimpi, rasaku telah sirna untuk hati yang tenggelam dalam kesunyian hari.

CERITA DALAM KATA - DAPATKAH KAU RESAPI



DAPATKAH KAU RESAPI
OLEH NANDA ABDUL KARIM


        Saat kita meneguk rintik-rintik kerinduan, adakah kau rasakan kebersamaan kita? Ataukah kau hanya membiarkan kita tak menyala?
        Diriku enggan untuk berbisik di telingamu, hanya karena engkau memiliki dua bola mata yang tak bersinar. Aku tahu kau tak buta, tapi apakah engkau selalu merasakan apiku yang hangat ini?
        Dapatkah kau resapi segalanya di sukmamu? Adakah kau dengarkan kala aku menyerukan rasaku kepadamu? Tentang semua keinginan hatiku kepadamu?
        Mungkin bukan aku yang terindah, aku hanyalah salju yang meleleh di jiwamu kala musim panas telah datang. Datanglah, datang dalam kegelapan hatiku, tempatkan lentera hatimu dalam sudutnya, agar ku dapat merasakan hangatmu di kala aku sepi menyendiri.