KISAH MASA LALU
By Nanda Abdul Karim
Ku pejamkan kedua mataku
untuk tidak melihat kembali kesalahan yang akan mungkin terjadi lagi. Ku tutup
jendela diri serta melupakan kehancuran di masa lalu, Berteriak di
tengah-tengah ombak membuatku merasa nyaman. Aku sempat putus asa dalam.
Bangun dari ketakutan
sangatlah sulit, apabila orang-orang terus mencemooh dan menghinaku. Lantas
mereka melempariku dengan kata-kata yang membuatku sakit hati. Namun, aku
mencoba untuk membuka diri sekedar mengetahui, apakah aku masih pantas. Lalu,
aku bercermin, melihat diri yang penuh dengan balutan dosa-dosa di masa lampau.
Akalku seakan tak berhenti membangkitkan lagi gairah hidup yang
telah lama hilang. Malam yang bisu tiba-tiba saja terpecah oleh desingan dawai
biola yang begitu menyakitkan telinga. Siapakah aku ini yang telah hina di mata
dunia?
Bagaimana
mungkin aku bisa mempermainkan kata-kata jiwa yang penuh maksud untuk di
pahami. Jika aku di berikan waktu untuk menatap lebih jelas lagi sekelilingku,
mungkin aku dapat melakukan yang terbaik untuk jiwa-jiwa itu.
Tiba-tiba aku tersadar, lalu
melihat ke arah langit dan merenung sedemikian dalamnya. Bisikan-bisikan dari
langit mengilhamiku untuk tak lagi melakukan hal yang bodoh. Aku tidak tahu,
bahwa waktu begitu cepat berlalu bersama musim semi yang menggantikan musim gugur
dalam kesedihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar