DI RUNDUNG PRAHARA
By Nanda Abdul Karim
Kau datang merengkuh daku yang bisu
Sajak-sajak mengisi baris keheningan
Sepasang mata memperhatikan mata lainnya
Menyaksikan kediaman di balik layar putih
Segala derita tertetes tanpa suara
Membutakan langit dengan sisa-sisa langkah
Mengurung hati yang penuh prahara
Jiwa hati tak tenang tak tenang menyambutnya
Aku tau pujian itu adalah hinaan yang halus
Menghakimi jiwa-jiwa yang di rundung sepi
Pedihnya jarum menusuk seperti belati
Hingga menitipkan luka yang tergores
Melemah seperti tiada pegangan
Tudung hati bersembunyi tiada menahu
Rintik hujan membasahi jiwa yang penuh dosa
Menghimpit waktu sebegitu derasnya
Aku sadar aku telah hina
Harga diri ini terjatuh menimpa bumi
Pancuran air mata sungguh menyayat diri
Sebuah lembaran kertas lalu menutup cerita perih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar